Jumat, 12 April 2013

E-MARKETING

Dalam e-Business terdapat E-Marketing dimana e-marketing juga berperan dalam penyusunan sistem e-business.Berikut ini adalah beberapa definisi e-marketing 
  • e-marketing adalah salah satu komponen dalam e-commerce dengan kepentingan khusus oleh marketer, yakni strategi proses pembuatan, pendistribusian, promosi, dan penetapan harga barang dan jasa kepada pangsa pasar internet atau melalui peralatan digital lain. Menurut Boone dan Kurtz (2005) 
  • e-marketing adalah penggunaan data dan aplikasi elektronik untuk perencanaan dan pelaksanaan konsep, distribusi, promosi, dan penetapan haga untuk menciptakan pertukaran yang memuaskan tujuan individu dan organisasi. Strauss dan Frost (2001) 
Dari beberapa refrensi tentang definisi e-marketing menurut kami 
  • e marketting adalah proses pemasaran yang menggunakan teknologi informasi elektronik khusunya adalah internet. 
Pada E-marketing juga terdapat beberapa tahapan dimana tahap-tahapan tersebut berpengaruh pada pembentukan e-marketing,tahap-tahapan e-marketing yaitu : 
a. Situation Analysis (Analisis Situasi). 
merupakan awal dari konsep bisnis dengan melakukan analisis kekuatan, peluang, kelemahan serta ancaman bagi perusahaan. Dalam bagian ini, analisis situasi yang digunakan adalah analisis SWOT. Menurut Rangkuti (2004), analisis SWOT adalah indentifikasi berbagai faktor secara sistematis untuk merumuskan strategi perusahaan. Analisis SWOT membandingkan antara faktor internal Kekuatan (Strengths) dan Kelemahan (Weaknesses) dengan faktor eksternal Peluang (Opportunities) dan Ancaman (Threats) yang dihadapi dunia bisnis. 

b. E-marketing Strategic Planning (Strategi Perencanaan E-marketing). Dalam tahap ini terdapat metodologi tujuh langkah sederhana yang membantu dalam mengevaluasi dan menganalisis peluang pasar (Market Opportunity Analysis/MOA), yaitu:


c. Objectives (Tujuan) 
Tujuan dalam e-marketing mencakup aspek tugas, kuantitas, dan waktu. 
  • Tugas (apa yang akan dicapai). 
  • Kuantitas yang terukur (seberapa banyak). 
  • Time frame (kapan). 
d. E-marketing Strategy (Strategi E-marketing) 
Strategi e-marketing mencakup strategi mengenai 4P dan hubungan manajemen (relationship management) untuk mencapai tujuan rencana mengenai Product (Produk), Price (Harga), Place (Saluran Distribusi), dan Promotion (Promosi). 

e. Implementation Plan (Rencana Pelaksanaan). Pada tahap ini perusahaan memutuskan bagaimana untuk mencapai tujuan melalui strategi yang efektif dan kreatif. Perusahaan juga memeriksa untuk memastikan organisasi pemasaran yang tepat di tempat pelaksanaan (staf, struktur departemen, penyedia layanan aplikasi, dan lain-lain di luar perusahaan. 

f. Identification Plan(identifikasi). Mengidentifikasi hasil yang diharapkan dari suatu investasi. Selama pelaksanaan rencana, pemasar akan terus memantau pendapatan aktual dan biaya untuk melihat hasil yang telah dicapai. Internet merupakan salah satu tools yang dapat digunakan untuk memantau hasil karena catatan teknologi pengunjung setiap klik. 

g. Evaluation Plan (Rencana Evaluasi). Perencanaan e-marketing dilaksanakan, keberhasilannya tergantung pada evaluasi yang terus-menerus. Untuk menentukan hasil pemasarannya, perusahaan dapat menggunakan balanced scorecard untuk mengukur kesuksesan dari program internet marketing dan apakah program internet marketing tersebut cocok sesuai dengan objektif dari perusahaan. 

Strategi E-Marketing merupakan bagian dalam strategi E-Business. Strategi E-Marketing akan sangat efektif bila dilaksanakan bersamaan dengan strategi E-Business. Tetapi E-Marketing dapat dipisahkan dengan E-Business. Contoh, mungkin ada perusahaan yang belum bekerja dengan menggunakan strategi E-Business, tetapi sudah melakukan E-Marketing. Tetapi ini juga merupakan langkah awal dalam mengubah perusahaan tersebut berbasis E-Business. Sehingga keduanya sangat berkaitan satu sama lain. 

Dalam pelaksanaan dan pengaplikasisan E-marketing perlu digunakan alat yang berbasis TI untuk menunjang E-maketing yang akan dijalankan ,contoh-contoh alat berbasis TI tersebut sebagai berikut : 

A. Interactive Digital Television 
Interactive Digital Television adalah sebuah media baru dengan format televisi tetapi dapat dinikmati melalui adanya saluran layanan sambungan internet di rumah sehingga audiences dapat memilih sendiri acara apa yang ingin ditonton. Banyak orang berkata bahwa IDTV ini sudah ada sejak adanya games anak-anak yang melibatkan penonton itu sendiri. Penonton dibawa untuk mandiri dengan memilih acara, program yang ingin dilihat sampai iklan dengan barang yang ingin dibeli. Hal ini, tentunya, membuat marketer semakin memahami keinginan target market. 

B. Digital Radio 
Ada 2 jenis radio digital, yaitu Digital Audio Broadcasting (DAB) dan Web radio. Digital Audio Broadcasting (DAB), sama seperti radio konvensional, hanya saja display yang digunakan untuk mencari saluran adalah sebuah liquid crystal display yang besar. Sedangkan web radio adalah radio yang didengarkan melalui streaming di internet serta mengunakan beberapa plug-ins seperti real media atau windows media player. 

C.Mobile (or wireless) Devices. 
Teknologi berbasis mobile devices adalah teknologi yang baru. Berawal dari telepon genggam, text messaging atau SMS (short message service) mulai menjadi fenomena. Setelah itu, banyak fasilitas lain yang ditawarkan oleh telepon genggam (seperti WAP di GSM, I-mode di Jepang, GPRS dan EDGE sampai pada 3G dan juga UMTS yang berbasis wireless network. Selain itu ada juga teknologi bluetooth yang berguna untuk viralcommunication, community activities dan juga location-based services. Ada juga BlueJacking, Voice Portaldan Unified Messaging System. Dengan kemajuan mobile device yang begitu cepat dan selalu terupdate tiap periodnya sehingga sekarang orang dapat mengakses internet dimana saja dan kapan saja melalui handphone,smartphone dan gadget yang mereka miliki. 


Paul Smith memperkenalkan metode SOSTAC dalam perencanaan pemasaran (marketing plan) yang diakui beberapa pihak merupakan metode perencanaan pemasaran yang mudah dipahami dan dijalankan perusahaan. Dalam postingan kali ini kami akan mencoba memberikan penjelasan tentang apa itu metode perencanaan pemasaran SOSTAC. Metode SOSTAC oleh Paul Smith 
a. Situation analysis 
Pada tahap awal ini dilakukan dalam menyusun perencanaan pembangunan e-marketing dimana pada tahapan ini dilakukan analisis kondisi atau tingkat keefektifan dari aktivitas marekting. Hasil analisis yang diperoleh dapat digunakan sebagai bahan menyusun strategi marketing yang baru. Dalam tahap ini perusahaan mengumpulkan informasi mengenai keadaan internal dan eksternal perusahaan sehingga mereka tahu konsisi perusahaan mereka di dalam marketlace. 

b. Objectivities 
Setelah perusahaan mengetahui posisi mereka dalam marketplace kemudian saatnya menentukan tujuan. Tujuan mengarahkan perusahaan supaya fokus hanya pada hal-hal yang ingin dicapai. Bila perusahaan mempunyai tujuan yang jelas dan spesifik maka hal itu akan membantu perusahaan agar lebig terarah dalam melaksanakan perencanaan dan memudahkan perusahaan dalam proses evaluasi untuk menemukan dan memperbaiki kesalahan dalam mencapai tujuan. 

c. Strategy formulation 
Setelah tujuan yang ingin dicapai berhasil dirumuskan makan penyusunan strategi yang tepat sasaran dapat dilakukan. Bagaiman strategi itu berjalan,bagaimana strategi itu dapat beradaptasi dengan lingkungan dan bagaiman strategi itu dapat mengarahkan kita untuk mencapai sebuah tujuan yang telah ditetapkan sebelumnya. 

d. Tactics 
Dalam tahap ini perusahaan dituntut untuk dapat memikirkan dan mengimplementasikan sebuah taktik yang jitu. Taktik adalah penjabaran detail dari langkah-langkah atau tahap-tahap yang akan dilakukan untuk pelaksanaan sebuah strategi yang akan digunakan guna mencapai tujuan. 

e. Action 
Setelah berhasil merumuskan taktik saatnya untuk memecah taktik tersebut menjadi sebuah rangkaian rencana kerja yang terstruktur dan terjadwal. Pada tahap ini dapat dibuat suatu jadwal kerja dalam bentuk flow chat atau yang lainnya untuk membuat perencanaan budget alokasi sumber daya secara detail, membuat risk management plan dll. 

f. Control 
Pada tahapan ini yang dimaksut control adalah memonitor dan mengevaluasi secara berkala apakah fungsi marketting yang telah diterapkan perusahaan sudah berhasil mencapai tujuan ataukah belum. Jika belum kesalahan apa saja yang mungkn membuat pencapaian tujuan menjadi terhambat dan bagaimanakah cara untuk memperbaikinya . Perusahaan harus mamu mendiagnosa secara teratur tingkat ke efektifan strategi dan taktik yang dijalankan apakah sudah berhasil ataukah belum. 


Dengan metode SOSTAC yang telah diuraikan atas maka metode tersebut dapat diterapkan pada E-marketing : 

a. Situation analysis 
Pada tahap ini, perusahaan mengumpulkan semua informasi yang dibutuhkan untuk melakukan perencanaan e-marketing dengan menggunakan analisis SWOT (Strength, Weakness, Opportunity, Threats) terhadap customer atau lingkungan sekitar perusahaan. 

b. Objectivities 
Setelah perusahaan telah mengetahui posisinya, ia akan mulai menentukan tujuan / sasaran e-marketingnya. Karena ini akan menentukan besar tidaknya kemungkinan mendapat customer yang banyak dan agar dapat men-spesifikasikan sasaran e-marketingnya agar cakupan tidak terlalu luas dan dapat menghemat biaya pengiklanan. 

c. Strategy formulation 
Setelah sasaran ditentukan, perusahaan akan langsung menyusun strategi untuk dapat memenuhi sasaran tersebut. Agar dapat dengan jelas pelaksanaannya dan agar dapat terorganisir jalannya e-marketing yang akan dijalankan. 

d. Tactics 
Strategi tanpa taktik jitu seperti masakan tanpa garam. Jadi perusahaan selain dituntut untuk merumuskan strategi e-marketing, perusahaan juga dituntut untuk dapat merumuskan taktik jitu untuk memaksimalkan kinerja strategi e-marketing. Taktik akan sangat membantu strategi jika benar-benar dipikirkan secara matang dan baik-baik. Tapi hal ini tidak menutup kemungkinan untuk adanya kecurangan dalam e-marketing. 

e. Action 
Setelah strategi dan taktik di susun. Saatnya merancang rancangan kinerja yang akan dilakukan. Apa-apa saja yang akan dilakukan. Urut-urutan untuk menjalankan e-marketing tersebut. Mulai dari awal hingga tercapainya iklan ke customer. 

f. Control 
Perusahaan pasti tidak bisa begitu saja meninggalkan pemasarannya walaupun itu sudah berjalan. Ia pasti akan memonitor bahkan melakukan survei apakah e-marketing yang ia jalankan berjalan dengan baik dan memenuhi sasaran atau tidak. Tidak ada yang sempurna di dunia ini. Pasti ada kelebihan dan kekurangannya. Perusahaan pasti akan mengevaluasi dan memperbaiki kesalahannya tersebut agar dapat berjalan sesuai dengan yang ia kehendaki. Inilah yang dimaksud control. 

Untuk memperjelas bagaimana itu metode SOSTAC berikut ini contoh penerapan metode SOSTAC yang dilakukan oleh AXIS :
1. Situation (Situasi)
Lingkungan di AXIS relatif homogen karena terdiri dari sebagian besar pada gerak usaha operator seluler dimana staf pekerja AXIS adalah , marketing dan sebagian kecil dari non anggota pemasaran. Suasana yang terasa di AXIS ini adalah suasana marketing, terasa sekali semangat dan di tuntut untuk mencapai target pemasaran,sehingga bisa dikatakan situasi kondisinya logis tenaga marketing secara langsung ataupun supporting sistem. Sehingga keluasan usaha, cakrawala pengetahuan dalam bidang marketing menjadi hal yang penting.
Analisis SWOT yang adalah :
a.Strength (kekuatan)
AXIS memulai kiprahnya sebagai operator GSM nasional yang mendambakan penawaran harga sederhana, transparan dan bersaing. Penawaran seperti itulah yang akhirnya dijadikan sebagai motto AXIS dengan tagline “GSM yang Baik”. “Penawaran harga yang rumit di pasar sering menimbulkan kebingungan di kalangan pelanggan telepon selular,” ujar Erik Aas, Presiden Direktur AXIS saat peluncuran AXIS di Hotel Ritz Carlton, Jakarta. Erik menambahkan bahwa karena itu, Axis menawarkan kepada pelanggan telekomunikasi di Indonesia sesuatu yang benar-benar baru. Sebagai layanan GSM yang terjangkau, sederhana dan transparan dimana pelanggan dapat mengetahui dengan pasti berapa jumlah uang yang dikeluargkan setiap selesai berkomunikasi.

b.Weaknest (kelemahan)
Tarif yang ditawarkan oleh semua operator telekomunikasi di Indonesia semakin menarik, namun itu saja belum cukup karena kualitas layanan juga harus semakin ditingkatkan. Akhirnya pelangganlah yang akan menentukan operator mana yang akan digunakan sesuai dengan kebutuhan. 
Kelemahan AXIS adalah menghadapi pesaing-pesaing provider yang lain adalah dengan persaingan harga yang cukup ketat, merupakan pemain lama yang memiliki, akses pelanggan dan jaringan yang cukup kuat. Sedangkan Indosat dan telkomsel adalah perusahaan BUMN yang memiliki kekuatan yang cukup mampu bertahan dan memiliki sebuah kemapanan secara keuangan dan politik. Sedangkan AXIS merupakan perusahaan swasta yang masih membutuhkan banyak dana oprasioanl dan masih mencari para pelanggan yang baru serta masih belum cukup mempunyai nama. 

c.Oportunity (Peluang)
AXIS memperkenalkan struktur tarif yang sederhana bagi para pelanggannya. Tarif sederhana tersebut berlaku saat pertama kali pelanggan menggunakan layanan.
“Kami yakin konsumen akan mendapatkan manfaat dari tarif yang murah dan menghargai struktur tarif kami yang transparan dan sederhana,” kata Erik Aas, Presiden Direktur Axis saat peresmian. Erik mengklaim bahwa tarif SMS Axis merupakan yang termurah saat ini.
Untuk skala nasional, tahun ini Axis menargetkan membangun sekitar 3000 BTS. Pengembangan wilayah secara geografis merupakan peluang yang cukup baik bagi AXIS, dimana jaringan belum di jangkau oleh operator mapan merupakan sisi peluang yang dapat ditempuh AXIS karena luasnya jaringan sangat membantu pemasaran dalam memasarkan produknya. AXIS memiliki peluang untuk berkembang di Indonesia bagian timur, karena Indonesia Timur memiliki peluang yang baik dalam Perluasan pasar GSM di Indonesia. Lebih jauh lagi bahwa peluang lain berkembang dengan konsumen yang makin cerdas maka merek sudah tidak lagi menjadi pilihan loyalitas pelanggan, Tabloid Pulsa bulan November 2008 menerangkan bahwa merek bukan lagi factor yang cukup mempengaruhi loyalitas pelanggan, ternyatya pelanggan lebih memperhatikan masalah harga, dan Fitur-Fitur yang dimiliki. 

d.Treath (Ancaman)
Pangsa pasar yang menjanjikan menunjukkan bahwa berbagai pesaing akan muncul di dalam pengembangan usaha telepon nirkabel ini. Terutama kemampuan daerah untuk membangun usaha milik daerah menjadikan ancaman baru terutama kebijakan reformasi di bidang otonomi daerah membuka peluang untuk itu. Tidak dapat dipungkiri lagi bahwa muncul operator local tak dapat dihindarkan lagi. Inovasi teknoligi invormasi cukup luar biasa dan besar dengan peningkatan kualitas masyarkat dalam menggunakan informasi dan telekomunikasi jarak jauh yang semakin mereka butuhkan. Sehingga pemain-pemain baru akan silih berganti bermunculan terus menerus. 

2.Objectives (Sasaran)
Sasarannya adalah sektor telekomunikasi seperti hanya perusahaan Seluler lainnya. AXIS telah menerapkan penggunaan 5 P dan SMART dalam menjalankan kegiatannya. Hal ini menjelaskan penerapan Manajemen berdasarkan Sasaran.
Mengejar pangsa pasar Indonesia bagian timur merupakan terobosan sasaran yang tepat, karena pengusaan operator mapan dalam hal ini adalah XL, Telkomsel, dan Indosat sudah mengusai sebagian besar Indonesia bagian barat. Sasaran berikutnya adalah eksekutif muda yang baru mempunyai daya beli dan menikmati pendapatan mereka dalam penggunaan seluler, maka harga yang murah menjadi pilihan mereka. Komunitas mereka lebih luas dan masyarakat komunitas cukup efektif untuk menjadi sasaran. Terutama komunitas internet yang tergabung dalam face book dan frienster,. Sehingga perlu membangun komunitas dengan memberikan stimulus, fasilitas layanan dan insentif bagi mereka. 

3. Strategy
AXIS berusaha menarik perhatian dan simpati public atau masayarakat dengan berbagai isu dan pemberitaan serta berangkat dari sesuatu yang dikesankan negative menjadi positif. Merupakan perjuangan yang berat. Caranya dengan aktif dalam kegiatan iklan dan pemasaran dengan berbagai macam strategi menarik minat publik untuk menjadi pemakai operator seluler AXIS, aktif membuka diri dari berbagai pertanyaan dengan mebuat situs WEB dalam internet, berdiskusi dengan publik dan pelanggan, aktif dalam menaggapi saran-saran publik.

4. Tactics
Taktik yang AXIS gunakan adalah berpikir luas,mengadakan hubungan dengan sumber luar agar jaringan dan dukungan luas. Taktik yang lain adalah selalu menjadi nomor satu dari bidang telepon seluler, nilai kepribadian dengan merek yang baik. 

5. Action (Tindakan)
Action (tindakan) yang dilaksanakan AXIS adalah belajar sungguh-sungguh, membaca banyak keinginan publik untuk menambah ilmu, aktif mengikuti perkembangan atribut AXIS, rela bekerja keras demi kepentingan bersama. Tindakan yang tepat sasran, strategi yang matang dan taktik yang jitu cukup dibutuhkan dalam organisasi.

6. Control(Pengawasan)
Mengontrol atau mengawasi semua strategi dan kegiatan yang sudah kita jalankan, dengan mengecek penerimaan image publik yang ada, dengan mengambil sampel acak bertanya tentang tanggapannya dan teknik lainnya untuk menggali kesan mereka tentang AXIS . Perlu adanya riset yang lebih dalam tentang layanan, persepsi pelanggan, persepsi pasar, loyalitas pelanggan dan kekuatan dalam persaingan, karena persaingan mereka cukup bebas dan mendekati bentu sempurna. Pengawasan dapat dilakukan baik dari pengawasan internal, eksternal melalui akuntan public, dan eksternal melalui pemerintah dan badan pengawas persaingan usaha. Dengan pengawasan yang tepat dan benar akan diperoleh informasi perkembangan usaha yang terjadi. Sehingga tanpa pengawan yang lebih melekat control perusahaan tidak terjaga dengan baik dan mengancam eksistensi perusahaan AXIS.









E-PROCUREMENT

Untuk mengenal e-Procurement hal pertama yang perlu kita ketahui definisi atau pengertian dari e-procurement itu sendiri. Berikut definisi dari ahli dan dari kami. 
E-procurement merupakan pengadaan barang dan jasa secara elektronik oleh perusahaan (Turban,2004,p.232) 
E-procurement merupakan integrasi dan manajemen elektronik terhadap semua aktivitas pengadaan termasuk permintaan pembelian, pemberian hak pemesanan, pengiriman dan pembayaran antara pembeli dan pemasok (Chaffey,2004,p.309)
E-procurement menurut kami adalah merupakan bagian dari e-bisnis dan digunakan untuk mendesain proses pengadaan berbasis internet yang dioptimalkan dalam sebuah perusahaan. E-procurement tidak hanya terkait dengan proses pembelian itu saja tetapi juga meliputi negosiasi-negosiasi elektronik dan pengambilan keputusan atas kontrak-kontrak dengan pemasok.
Dalam e-procurement terdapat mekanisme, mekanisme procurement adalah bentuk dari e-commerce untuk perantara antara produk dan jasa atau digunakan untuk tendering produk dan jasa antara perusahaan dengan pemasok. E-procurement kebanyakan diakses dari web oleh perusahaan-perusahaan besar dan badan-badan usaha umum. E-procurement merupakan aplikasi e-commerce untuk proses negosiasi dan perjanjian (contracting)
Komponen-komponen dari e-procurement sendiri adalah :
a. Perangkat Keras (hardware). Merupakan seperangkat alat keras yang digunakan untuk mendukung e procurement itu sendiri, contoh :komputer 
b. perangkat lunak (software). Berupa software yang berfungsi sebagai system yang menjalankan e procurement, contoh : ERP
c. sumber daya manusia (brainware). SDA di siniberfungsisebagai operator yang menjalankan system e procurement itusendiri
d. Pemakai atau pengguna (user). User sangat berperan penting pada komponen e procurement, karena tanpa adanya user, system ini tidak dapat berjalan dengan sempurna, karena tujuan pembuatan e-procurement ialah untuk user
e. kebijakan (policy). Mengatur system yang sedang berjalan dan memberi kebijakan sehingga e-procurement dapat berjalan dengan baik
f. tatakelola (governance). Aturan dari pemerintah yang menjadi acuan pembuatan maupun berjalanya e-procurement 
g. proses (business process).Proses bisnis yang terdapat pada suatu perusahaan tertentu dimana proses bisnis ini yang akan menjadi dasar e-procurement sendiri
h. infrastrukturperusahaan. Insfrastruktur yang berada dalam perusahaan dimana infrastruktur tersebut salling berintegrasi untuk mencapai tujuan dalam perusahaan itu sendiri

Ketika kita mengimplementasikan e-procurement terhadap bisnis perusahaan terdapat beberapa pengaruh, diantaranya adalah : 
  • E-procurement menawarkan kesempatan seluas-luasnya untuk perbaikan dalam biaya dan produktivitas,
  • E-procurement adalah salah satu cara yang paling efektif untuk menyempurnakan manajemen dalam proses langsung, maupun tidak langsung dalam pencarian sumber pembelian,
  • Strategi e-procurement yang efekti merupakan kunci keberhasilan dalam meningkatkan daya saing di waktu yang akan datang.
Tetapi dalam peengimplementasianya terdapat juga manfaat dari e-procurement, beberapa manfaat dari e-procurement adalah :
  • Penghapusan biaya administrasi. Penerapan e-procurement mengotomatisasi banyak proses administrasi dalam pembelian sehingga menjadi proses yang tanpa tertulis (paperless). Pengadaan secara tradisional dipandang sebagai pekerjaan penyampaian kertas dalam seluruh perusahaan 
  • Pemotongan waktu siklus pembelian. Waktu dari pemesanan hingga pengiriman dapat berhari-hari atau berbulan-bulan, membuat proses pengadaan menjadi kurang layak untuk kebutuhan-kebutuhan yang harus dipesan secara cepat. Penundaan-penundaan sering disebabkan oleh persyaratan-persyaratan tertulis yang harus ditangani secara manual oleh satu atau lebih orang dan di mana budjet dan komitmen-komitmen harus diperiksa sebelum pesanan keluar. Solusi e-procurement dengan tingkat kemajuan pekerjaan menjadi sifat inti mengefisienkan proses ini dan menghindari kemacetan (bottleneck) yang umum terjadi dalam proses ini.Hal ini memungkinkan suatu permintaan diperiksa secara otomatis terhadap setting-setting yang sudah ditetapkan dan disetujui secara elektronik. Hal ini tidak hanya mempercepat proses keseluruhan tetapi juga memberikan analisis lengkap atas siklus pembelian sehingga staff pengadaan dapat mengenali kemacetan-kemacetan umum dan menentukan apakah penundaan diakibatkan oleh sebab internal atau eksternal. Singkatnya, e-procurement mendorong staf menyelesaikan tugasnya dengan cepat tanpa mengorbankan kendali. 
  • Kontrol manajemen yang lebih besar. Karena semua data pengadaan diproses melalui satu database terpusat dan secara otomatis diintegrasikan ke dalam Financial Management Information System (FMIS), e-procurement memungkinkan analisis yang relevan dan laporan manajemen dapat dengan mudah dihasilkan. 
  • Sesuai kebutuhan user. Memaksimalkan kecocokan dengan kebutuhan, menjamin bahwa setiap orang hanya membeli dari pemasok yang disetujui adalah hal penting bagi manajer pembelian, karena mempunyai dua manfaat yaitu mendapatkan nilai terbaik dari persetujuan-persetujuan dengan yang dipilih oleh perusahaan dan perusahaan-perusahaan dapat meningkatkan persetujuan-persetujuan yang jauh lebih baik dengan para pemasoknya. Dengan proses pengadaan tradisional, permintaan tertulis sangat menghabiskan waktu untuk menyelesaikan dan mudah mengalami penundaan-penundaan ketika permintaan tersebut melalui proses persetujuan yang tidak membutuhkan perhatian banyak pengguna. 
  • Pengurangan tingkat kesalahan pemesanan. E-procurement secara dramatis mengurangi kecenderungan kesalahan pengguna dalam proses pengadaan, karena pesanan-pesanan dibuat dengan memilih item-item yang ada di katalog dalam sistem. Hal ini mengurangi peluang pesanan diterjemahkan secara tidak tepat, harga-harga tidak tepat, atau item-item dalam katalog sudah usang dan tidak diproduksi lagi pada waktu pemesanan. 
Ketika kita mengimplementasikan e-procurement pada sebuah perusahaan tentunya kita akan menjumpai beberapa permasalahan, disini kami akan mencoba memaparkan permasalahan yang mungkin terjadi. E-procurement dalam sektor B2C(Bussines-to-Consumer) juga lambat untuk diterima karena jalur-jalur rantai suplai tidak sepenuhnya mendukung e-bisnis. Salah satu halangan adalah tidak banyak pemasok yang memiliki perlengkapan untuk berpartisispasi dalam sebuah proses e-procurement. Mereka harus berinvestasi dalam pembuatan interface yang sesuai dan dalam beberapa kasus customer enggan berpartisipasi. Dan agar tidak terjadi kegagalan dan memperkecil masalah dalam pengimplementasian e-procurement diperlukan adanya Strategi agar e-procurement dapat terintregasikan dengan baik dalam suatu perusahaan. Beberapa strategi yang kami paparkan meliputi : 
  • Membangun komitmen bersama di lingkungan kerja perlu dilakukan oleh seluruh stakeholder (pemangku kepentingan). Sistem yang sudah terbangun akan gagal bila tidak memiliki tujuan untuk melaksanakan pengadaan secara lebih baik. Tidak adanya komitmen di instansi akan menyebabkan tidak terbangunnya sistem e-proc di instansi tersebut. Komitmen ini harus dipahami dan dijalankan oleh semua pihak dalam instansi tersebut. 
  • Mempersiapkan SDM dalam mengoperasikan sistem e-procurement. Dalam mengoprasikan sistem e-procurement ini kita harus menyediakan SDM yang berkualitas, jika SDM tidak dapat menjalankan tugasnya dengan baik, maka terjadinya kegagalan sistem dapat terjadi. Dalam pengoprasianya, kita juga membutuhkan banyak tidaknya (kuantitas) SDM tersebut. Tetapi disamping itu kita harus memperhatikan kualitas itu sendiri, karena jika kita hanya terpaku pada kuantitas tetapi mengaibaikan kualitas, hal ini hanya akan menghabiskan biaya.
Guna memperjelas apa yang telah kami paparkan, kami akan memberikan contoh bagaimana implementasi e-procurement dalam perusahaan beserta manfaat dan keuntungan adanya e-procurement 

Perusahaan PLN 
E-Procurement PLN (eProc) sebagai salah satu aplikasi yang merupakan implementasi dari IT Governance yang mendukung Good Corporate Governance (GCG). Proses pengadaan secara manual dapat mengakibatkan sulitnya informasi mengenai harga satuan khusus di internal PLN, perlakuan yang tidak sama kepada Calon Penyedia Barang/Jasa (CPBJ), dan lemahnya pertanggung jawaban terhadap proses pegadaan sehingga mengakibatkan resiko di kemudian hari. Terkait tidak adanya informasi stok barang di gudang, mengakibatkan sulitnya mencapai sasaran stok optimal. Aplikasi eProc mampu membawa manfaat bagi Perusahaan yakni adanya 
  • Standardisasi proses pengadaan 
  • Terwujudnya transparansi 
  • Efisiensi pengadaan yang lebih baik 
  • Tersedianya informasi harga satuan khusus di internal PLN 
  • Serta mendukung pertanggung-jawaban proses pengadaan. 
Ruang lingkup eProc PLN dibagi menjadi 3 (tiga) kebutuhan utama, antara lain : 
  • Cataloging Information System, merupakan pemenuhan kebutuhan atas terbentuknya database katalog material (MDU, sparepart, SCADA, Pembangkit, Bahan Bakar, dll), sharing informasi dari persediaan serta bursa 
  • Supply Chain Management (SCM) System, perwujudan dari pengadaan material melalui bursa antar Unit PLN 
  • Portal e-Proc PLN, usaha untuk memberikan hosting portal kepada pihak lain yang inign menggunakan jasa layanan pengadaan barang/jasa, memberikan layanan promosi/iklan melalui portal eProc, dan menjadi pusat penyedia informasi 

Selama tahun 2005-2008, eProc mencatat saving sebesar 4,56% terhadap realisasi Harga Perkiraan Sendiri (HPS), yakni Rp.249,40 Milyar dan pengehematan sebesar Rp.1,6 Trilyun dari Realisasi Rencana Anggaran Biaya (RAB) terhadap Total RAB. Sedangkan total pengadaan yang telah direalisasikan melalui e-Proc selama 4 tahun tersebut adalah sebanyak 3352 pengadaan dari total rencana sebanyak 5071 pengadaan atau 66,1%. Dalam perkembangannya, eProc PLN menjadi aplikasi yang mampu mendukung pelaksanaan perwujudan kinerja yang lebih baik kalangan internal PLN. Jika aplikasi eProc sudah bisa menjadi salah satu profit center dari PT.PLN (Persero), maka tidak menutup (Persero), maka tidak menutup kemungkinan bisa dikembangkan untuk menjadi Unit Bisnis atau Anak Perusahaan dari PT.PLN (Persero) yang mampu mengelola seluru proses bisnis e-commerce internal dan beberapa bagian bisnis eksternal. 


(Tim eProc PLN—eP&PNA)


Sumber :
ebisnis.wordpress.com
eproc.pln.co.id
REI eBook-ElectronicProcurement

Selasa, 02 April 2013

Supply Chain Management (SCM)

Pada postingan kali ini kami akan membahas tentang Supply Chain Management atau lebih sering disebut SCM. Disini kita akan membahas apa itu SCM berikut tentang upstream downstream baik pull maupun push, bagaimana sejarah perkembanganya, lalu bagaimana peran Teknologi dalam SCM itu sendiri dan terakhir kami akan mencoba menjelaskan hubungan antara Porter’s Value Chain dengan pemahaman anda terhadap penerapan TI pada SCM
Yang pertama apa itu SCM ? Supply Chain Management (SCM) terdiri dari semua pihak yang terlibat langsung maupun tidak langsung, dalam memenuhi permintaan pelanggan. Supply chain tidak hanya meliputi produsen dan pemasok, tetapi juga distributor, pergudangan,pengecer dan bahkan pelanggan sendiri
Supply Chain menurut kami merupakan suatu rangkaian proses-proses dan aliran yang terjadi didalam dan diantara tahapan rantai pasok yang berbeda dan berkombinasi untuk memenuhi kebutuhan pelanggan atas suatu produk. Konsep supply chain ini mengintegrasikan secara efisien antara pemasok, perusahaan manufaktur, pergudangan, dan toko, sehingga barang yang diproduksi dan didistribusi dengan kualitas yang tepat, lokasi yang tepat, dan waktu yang tepat, untuk meminimumkan biaya-biaya pada kondisi yang memuaskan kebutuhan tingkat pelayanan.

Apa itu Upstream supply chain & Downstream supply chain ?
  • Rantai Pasokan Hulu/Upstream supply chain
Upstream aktivitas dari supplier ke perusahaan, kegiatan tersebut meliputi pembelian bahan baku dan segala hubungan antara supplier ke perusahaan itu sendiri. Di dalam upstream supply chain, aktivitas yang utama adalah pengadaan.
  • Segmen Rantai Pasokan Hilir/Downstream supply chain segment
Downstream aktivitas dari perusahaan ke customer, meliputi kegiatan memperkenalkan dan memasarkan produk kepada customer. Di dalam downstream supply chain, perhatian diarahkan pada distribusi, pergudangan, transportasi, dan after-sales-service.

Lalu berikutnya adalah apa itu Pull dan push supply chain
  • Push Supply Chain adalah proses yang di prakarsai oleh perusahaan dimana perusahaan yang menentukan semua produk yang akan dihasilkan, pada push supply chain ini di fokuskan pada proses produksi 
  • Pull Supply Chain adalah proses yang ditentukan oleh customer dimana produk2 yang akan dihasilkan dibuat atas dasar permintaan customer, pada pull supply chain di fokuskan pada kualitas layanan 

Sejarah perkembangan (SCM)
Enam gerakan besar dapat diamati dalam evolusi studi manajemen rantai pasokan: (. Movahedi et al, 2009) Penciptaan, Integrasi, dan Globalisasi, Spesialisasi Fase Satu dan Dua, dan SCM 2.0.

1. era penciptaan
Manajemen rantai pasokan Istilah ini pertama kali dicetuskan oleh seorang konsultan industri AS pada awal tahun 1980. Namun, konsep rantai pasokan dalam manajemen adalah sangat penting jauh sebelum, di awal abad 20, terutama dengan penciptaan jalur perakitan. Ciri-ciri dari era manajemen rantai pasokan termasuk kebutuhan untuk perubahan skala besar, rekayasa ulang, perampingan didorong oleh program-program pengurangan biaya, dan perhatian luas terhadap praktek manajemen Jepang

2. integrasi era
Era studi manajemen rantai pasokan yang disorot dengan pengembangan Electronic Data Interchange (EDI) sistem pada tahun 1960 dan dikembangkan melalui 1990-an oleh pengenalan Enterprise Resource Planning (ERP) sistem. Era ini terus berkembang menjadi abad ke-21 dengan ekspansi sistem kolaboratif berbasis internet. Era evolusi rantai suplai dicirikan oleh meningkatkan nilai tambah dan pengurangan biaya melalui integrasi. Bahkan rantai pasokan dapat diklasifikasikan sebagai jaringan Tahap 1, 2 atau 3. Pada tahap 1 rantai pasokan jenis, berbagai sistem seperti Buat, Penyimpanan, Distribusi, Bahan kontrol, dll adalah tidak terkait dan tidak bergantung satu sama lain. Dalam rantai pasokan 2 tahap, ini adalah terpadu di bawah satu rencana dan ERP diaktifkan. Sebuah panggung 3 rantai pasokan adalah satu di mana integrasi vertikal dengan pemasok di arah hulu dan pelanggan di arah hilir tercapai. Contoh semacam ini supply chain adalah Tesco.

3. era globalisasi
Gerakan ketiga pengembangan manajemen rantai suplai, era globalisasi, dapat dicirikan oleh perhatian yang diberikan kepada sistem global hubungan pemasok dan perluasan rantai pasokan lebih dari batas-batas nasional dan ke benua lain. Meskipun penggunaan sumber-sumber global dalam rantai pasokan organisasi dapat ditelusuri kembali beberapa dekade (misalnya, dalam industri minyak), tidak sampai akhir 1980-an itu, sejumlah organisasi mulai untuk mengintegrasikan sumber global ke dalam bisnis inti mereka. Era ini ditandai oleh globalisasi manajemen rantai pasokan dalam organisasi dengan tujuan meningkatkan keunggulan kompetitif mereka, nilai tambah, dan mengurangi biaya melalui sumber global.

4. spesialisasi era-fase satu: manufaktur outsourcing dan distribusi
Pada 1990-an, industri mulai berfokus pada "kompetensi inti" dan mengadopsi model spesialisasi. Perusahaan ditinggalkan integrasi vertikal, dijual operasi non-inti, dan outsourcing fungsi-fungsi ke perusahaan lain. Ini diubah persyaratan manajemen dengan memperpanjang rantai pasokan perusahaan melampaui dinding dan mendistribusikan manajemen rantai pasokan di kemitraan khusus. Transisi ini juga kembali fokus perspektif fundamental dari masing-masing organisasi masing-masing. OEM menjadi pemilik merek yang diperlukan visibilitas jauh ke pangkalan logistik mereka. Mereka harus mengendalikan seluruh rantai dari atas, bukan dari dalam. Kontrak produsen harus mengelola kebutuhan material dengan skema penomoran bagian yang berbeda dari beberapa OEMs dan permintaan dukungan pelanggan untuk visibilitas bekerja-di-proses dan persediaan vendor-dikelola (VMI). Model spesialisasi menciptakan jaringan produksi dan distribusi terdiri dari beberapa, rantai pasokan individu spesifik untuk produk, pemasok, dan pelanggan yang bekerja sama untuk mendesain, memproduksi, mendistribusikan, pasar, menjual, dan pelayanan produk. Himpunan mitra dapat berubah menurut suatu wilayah, pasar tertentu, atau saluran, mengakibatkan proliferasi lingkungan mitra dagang, masing-masing dengan karakteristik sendiri yang unik dan tuntutan.

5. spesialisasi era-fase dua: manajemen rantai suplai sebagai layanan
Spesialisasi dalam rantai pasokan dimulai pada tahun 1980-an dengan dimulainya brokerages transportasi, manajemen gudang, dan operator non-berbasis aset dan telah jatuh tempo di luar transportasi dan logistik ke pasokan aspek perencanaan, kolaborasi, pelaksanaan dan manajemen kinerja. Pada saat tertentu, kekuatan pasar bisa menuntut perubahan dari pemasok, penyedia logistik, lokasi dan pelanggan, dan dari sejumlah peserta ini khusus sebagai komponen jaringan rantai pasokan. Keragaman ini memiliki pengaruh yang signifikan pada infrastruktur rantai pasokan, dari lapisan dasar mendirikan dan mengelola komunikasi elektronik antara mitra dagang untuk kebutuhan yang lebih kompleks termasuk konfigurasi dari proses dan arus kerja yang sangat penting untuk pengelolaan jaringan itu sendiri. Spesialisasi rantai suplai memungkinkan perusahaan untuk meningkatkan kompetensi secara keseluruhan dengan cara yang sama bahwa outsourcing manufaktur dan distribusi telah dilakukan, yang memungkinkan mereka untuk fokus pada kompetensi inti dan merakit jaringan tertentu, mitra terbaik di kelas untuk berkontribusi pada nilai keseluruhan rantai sendiri, sehingga meningkatkan kinerja dan efisiensi. Kemampuan untuk dengan cepat mendapatkan dan menggunakan keahlian ini supply chain domain-tertentu tanpa mengembangkan dan mempertahankan kompetensi sepenuhnya unik dan kompleks di dalam rumah adalah alasan utama mengapa rantai suplai spesialisasi mendapatkan popularitas. Outsource teknologi hosting untuk solusi rantai pasokan debutnya di akhir 1990-an dan telah mengambil akar terutama di kategori transportasi dan kolaborasi. Ini telah berkembang dari model Aplikasi Layanan Provider (ASP) dari sekitar 1998 sampai 2003 untuk model On-Demand dari sekitar 2003-2006 ke Software sebagai model (SaaS) Service saat ini dalam fokus hari ini.

6. manajemen rantai pasokan 2.0 (SCM 2.0)
Membangun globalisasi dan spesialisasi, para SCM istilah 2.0 telah diciptakan untuk menggambarkan baik perubahan dalam rantai suplai itu sendiri serta evolusi, metode proses dan alat-alat yang mengelolanya dalam "era" baru. Web 2.0 didefinisikan sebagai kecenderungan dalam penggunaan World Wide Web yang dimaksudkan untuk meningkatkan kreativitas, berbagi informasi, dan kolaborasi antara pengguna. Pada intinya, atribut umum bahwa Web 2.0 membawa adalah untuk membantu menavigasi sejumlah besar informasi yang tersedia di web untuk menemukan apa yang dicari. Ini adalah gagasan dari sebuah jalur dapat digunakan. SCM 2.0 berikut ini gagasan ke dalam operasi rantai suplai. Ini adalah jalan menuju hasil SCM, kombinasi dari, metodologi proses, alat dan pilihan pengiriman untuk memandu perusahaan untuk hasil mereka dengan cepat sebagai kompleksitas dan kecepatan meningkatkan rantai pasokan karena efek dari persaingan global, fluktuasi harga yang cepat, bergelombang harga minyak, siklus hidup produk pendek, spesialisasi diperluas, near-/far- dan off-menopang, dan kelangkaan bakat

SCM pasti tidak terlepas dari Teknologi, karena itu disini kita akan membahas peran teknologi dalam SCM, berikut peran TI dalam SCM :
  • Menangkap dan menganalisa informasi yang diperlukan untuk membuat keputusan yang baik  TI dapat menyediakan Informasi-informasi yang di butuhkan pada tahap-tahap keputusan dalam supply chain. Seperti dalam tahap Strategi atau Desain (Supply Chain Strategy or desain), tahap Perencanaan (Supply Chain Planning), tahap Operasional (Supply Chain Operation) 
  • Alat yang digunakan untuk memperoleh informasi, menganalisis informasi dan menjalankanya untuk meningkatkan kinerja 
  • Dengan adanya TI maka memungkinkan untuk mendapatkan informasi secara cepat dan tepat, karena dengan waktu yang relatif singkat itu kita dapat memperoleh informasi yang banyak sehingga kita mendapat banyak referensi
  • Sistem TI dapat mengetahui jumlah persediaan barang dan memperkirakan permintaan. Dengan adanya sistem tersebut maka dapat dengan mudah memperkirakan jumlah permintaan berikutnya dan dapat mengetahui jumlah persediaan barang pada gudang, sistem akan berjalan secara otomatis dan tentu saja hal ini akan menghemat biaya dari pada menggunakan sistem secara manual

Hubungan antara Porter’s Value Chain dengan pemahaman anda terhadap penerapan TI pada SCM

Porter’s Value Chain adalah model yang digunakan untuk membantu menganalisis aktivitas-aktivitas spesifik yang dapat menciptakan nilai dan keuntungan kompetitif bagi organisasi. Aktivitas-aktivitas tersebut dibagi dalam 2 jenis, yaitu :
1. Primary activities :
  • Inbound logistics: aktivitas yang berhubungan dengan penanganan material sebelum digunakan. 
  • Operations :akivitas yang berhubungan dengan pengolahan input menjadi output. 
  • Outbound logistics :aktivitas yang dilakukan untuk menyampaikan produk ke tangan konsumen. 
  • Marketing and sales :aktivitas yang berhubungan dengan pengarahan konsumen agar tertarik untuk membeli produk. 
  • Service :aktivitas yang mempertahankan atau meningkatkan nilai dari produk. 
2. Supported activities :
  • Procurement : berkaitan dengan proses perolehan input/sumber daya. 
  • Human Resources Management : Pengaturan SDM mulai dari perekrutan, kompensasi, sampai pemberhentian. 
  • Technological Development : pengembangan peralatan, software, hardware, prosedur, didalam transformasi produk dari input menjadi output. 
  • Infrastructure : terdiri dari departemen-departemen/fungsi-fungsi (akuntansi, keuangan, perencanaan, GM, dsb) yang melayani kebutuhan organisasi dan mengikat bagian-bagiannya menjadi sebuah kesatuan. 
Istilah Margin menyiratkan bahwa organisasi mewujudkan keuntungan yang tergantung pada kemampuan mereka untuk mengelola hubungan antara semua kegiatan dalam supply chain. Dengan kata lain, organisasi mampu untuk memberikan produk / layanan dimana pelanggan bersedia untuk membayar lebih dari jumlah biaya dari semua kegiatan.

Hubungan antara Porter’s Value Chain terhadap penerapan TI pada SCM adalah semua kegiatan dalam sebuah perusahaan maupun organisasi bertujuan untuk mencapai suatu tujuan tertentu, dan dalam pengerjaanya bergantung pada kemampuan untuk mengelola hubungan antara semua kegiatan dalam supply chain. Dan IT adalah factor yang berperan penting dalam SCM, karena IT dalam SCM merupakan alat yang digunakan untuk memperoleh informasi, menganalisis informasi dan menjalankanya untuk meningkatkan kinerja guna menganalisa informasi yang diperlukan untuk membuat keputusan yang baik






Sumber : 
wikipedia.org
Pmmc.or.id
Chopra, Sunil & Peter Meindl. 2001. Supply Chain Management. 2007. New Jersey. Person Education, Inc.

Senin, 25 Februari 2013

STRATEGI E-BUSINESS

Pada postingan kali ini kami akan mengulas tentang strategi bisnis. Apa itu strategi bisnis ?Yang pertama kita lihat dulu arti strategi menurut KBBI. Strategi menurut KBBI adalah rencana yang cermat mengenai kegiatan untuk mencapai sasaran khusus.
Strategi bisnis adalah Penetapan sasaran dan tujuan jangka panjang sebuah perusahaan, dan arah tindakan serta alokasi sumber daya yang diperlukan untuk mencapai sasaran dan tujuan tersebut. (MIT Press, Cambridge, Ma.)
Lalu menurut kelompok strategi bisnis merupakan cara-cara yang digunakan perusahaan untuk mendapatkan keunggulan persaingan di dalam bisnisnya. Strategi bisnis dapat mencakup ekspansi geografis, diversifikasi, akuisisi, pengembangan produk, penetrasi pasar, pengurangan bisnis, likuidasi, dan joint venture.

Dalam Strategi bisnis terdapat pula beberapa tingkatan, tingkatan strategi bisnis tersebut adalah
  1. Tingkat Korporasi; strategi perusahaan yang memiliki saham (ownership) beberapa perusahaan lain.
  2. Tingkat Bisnis Multi Divisi; merupakan strategi yang terjadi pada tingkat divisi atau unit bisnis dan merupakan strategi yang menekankan pada perbaikan posisi bersaing produk atau jasa pada spesifik industri atau segmen pasar tertentu.
  3. Tingkat Fungsional; optimalisasi produktivitas sumber daya dalam memberikannilai (value) terbaik untuk kebutuhan pelanggan(customers)
  4. Tingkat Operasional; merupakan strategi yang menjalankan implementasi dari operasional-operasional perusahaan
Untuk menyusun strategi bisnis, tentunya ada beberapa tahapan, tahap-tahapan strategi bisnis akan kami jelasakan sebagai berikut :
A. Pengamatan Lingkungan
Analisis Eksternal
  • Lingkungan eksternal : terdiri dari variabel-variabel (kesempatan dan ancaman) yang berada di luar organisasi dan tidak secara khusus ada dalam pengendalian jangka pendek dari manajemen puncak 
  • Lingkungan Kerja : terdiri dari elemen-elemen atau atau kelompok yang secara langsung berpengaruh atau dipengaruhi oleh operasi-operasi utama organisasi 
  • Lingkungan Sosial : Terdiri dari kekuatan umum-kekuatan itu tidak berhubungan langsung dengan aktivitas-aktivitas jangka pendek organisasi tetapi dapat dan sering mempengaruhi keputusan-keputusan jangka panjang . 
Analisis Internal
  • Struktur, adalah cara bagaimana perusahaan diorganisasikan yang berkenaan dengan komunikasi, wewenang, dan arus kerja 
  • Budaya, adalah pola keyakinan, pengharapan, dan nilai-nilai yang dibagikan oleh anggota organisasi 
  • Sumber, daya adalah asset yang merupakan bahan baku bagi produksi barang dan jasa organisasi 
B. Perumusan Strategi adalah pengembangan rencana jangka panjang untuk menejemen efektif dari kesempatan dan ancaman lingkungan, dilihat dari kelemahan perusahaan
C. Implementasi Strategi adalah prises dimana manajemen mewujudkan strategi dan kebijakannya dalam tindakan memalui pengembangan program, anggaran, dan prosedur
D. Evaluasi dan Pengendalian adalah proses yang melaluinya aktivitas-aktivitas perusahaan dan hasil kinerja dimonitor dan kinerja sesungguhnya dibandingkan dengan kinerja yang diinginkan

Setelah kita membahas tentang Stretegi E-Business, kami menyimpulkan bahwa hubungan antara strategi bisnis/perusahaan dengan strategi e-business. Strategi e-business tentunya dipengaruhi oleh strategi bisnis itu sendiri. Namun dalam e-business strategi-strategi bisnis tersebut dapat dikembangkan dengan adanya penggunaan IT.

Untuk memperkuat pernyataan kami, maka kami akan mencontohkan penerapan strategi e-business pada perusahaan beserta ulasan keterkaitan antara strategi bisnis dengan strategi e-business
Grand Livina dan Kisah Revolusi Manajemen di Nissan
Nissan Grand Livina yang dinobatkan sebagai Car of The Year untuk tahun 2007. Diluncurkan bulan April lalu, produk ini langsung laris manis di pasaran. Laju penjualannya membuat sang penguasa pasar, Kijang Innova, menjadi ketar-ketir. Perjuangan Grand Livina ini seolah mengulang kesuksesan Nissan XTrail yang pada tahun 2005 pernah menjadi No. 1 SUV di Indonesia. Dua produk ini – dan juga sejumlah varian lain Nissan lainya – lantas melambungkan kembali nama Nissan dalam pasar otomotif di Indonesia, dan juga dalam industri mobil dunia. Padahal lima belas tahun lalu, kinerja Nissan telah berada di ambang kebangkrutan. Jadi, apa yang membuat Nissan bisa melakukan proses pembalikan (turn around) secara cepat dan efisien? Kisah tentang revolusi manajemen di Nissan mungkin tak kalah atraktifnya dengan tampilan manis Grand Livina. Karena itu, mari kita simak bersama. Pada tahun 1999, pabrik Nissan (Jepang) mulai mengalami kebangkrutan. Lini produknya kian dilupakan orang, dan setiap tahun terus didera kerugian demi kerugian. Kinerja keuangannya berdarah-darah, dan pada tahun 1998, hutang Nissan sudah mencapai Rp 200 trilyun . Para petinggi Nissan sudah tidak bisa berbuat apa-apa lagi. Namun persis pada saat itu, Renault dari Perancis datang menyembuhkan Nissan. Setelah melalui negosisasi yang cukup panjang, Renault yang ternyata juga memiliki sebuah perusahaan mobil setuju untuk membeli 37 % saham Nissan dan menggelontorkan dana segar untuk menyelamatkannya. Namun, Renault juga minta satu hal : posisi CEO Nissan. Demikianlah, setelah disepakati, Renault lalu mengutus salah satu eksekutif terbaiknya bernama Carlos Ghosn untuk menjadi CEO Nissan (sebuah fenomena yang juga amat langka di Jepang, orang non-Jepang bisa menjadi CEO perusahaan besar Jepang). Pesan Renault untuk pria keturunan Lebanon ini lugas : segera angkat koper ke Jepang, selamatkan Nissan, dan jangan pernah kembali ke Paris sebelum engkau berhasil. Begitulah, pada pertengahan tahun 1999, Carlos Ghosn resmi menjadi CEO Nissan untuk memulai sebuah misi penyelamatan. Segera sejak itu, Carlos melakukan serangkaian langkah kunci untuk merevitalisasi kebesaran Nissan. Yang pertama ia lakukan adalah building sense of urgency untuk berubah. Pilihan bagi Nissan saat itu memang cuma dua : berubah atau mati. Dan fakta serta data yang ada memang mampu membuat segenap pekerja Nissan percaya bahwa kondisi Nissan sudah berada pada titik nadir, and they have to change to survive. Langkah berikutnya adalah meluncurkan apa yang ia sebut sebagai Nissan Recovery Plan. Dalam rencana inilah dipetakan secara detail dan jelas tindakan kunci apa saja yang perlu dilakukan untuk mentransformasi Nissan. Dalam recovery plan ini terdapat dua strategi kunci. Yang pertama adalah segera melakukan revitalisasi produkproduk baru Nissan. Proses pengembangan produk baru harus dipercepat dan segera ditingkatkan kapabilitasnya. Disini Nissan merekrut salah satu desainer mobil top Jepang, Shiro Nakamura, untuk menjadi Chief. Design Nissan, dan keputusan ini ternyata kelak terbukti amat vital untuk merevitalisasi lini produk Nissan. Strategi yang kedua adalah melakukan efisiensi biaya secara besar-besaran. Termasuk didalamnya adalah menutup pabrik-pabrik yang tidak produktif, mensentralkan proses purchasing secara global agar lebih efisien, serta juga mengeliminasi pekerjaan-pekerjaan yang nonvalue-added. Langkah terakhir yang dilakukan Carlos Ghosn adalah membetuk Tim Inti yang langsung dikomandani dirinya. Tugas tim ini jelas dan tegas : memastikan bahwa semua yang tercantum dalam recovery plan dapat di-EKSEKUSI dengan tuntas. Eksekusi atau implementasi menjadi kata kunci disini. Dan beruntung, Carlos ternyata bukan tipe leader yang hanya bicara visi saja. Carlos merupakan tipe eksekutor sejati. Ia selalu fokus pada hasil (result oriented) dan berorientasi pada bagaimana menuntaskan proses eksekusi. Sikap semacam ini tak pelak merupakan elemen penting untuk memastikan agar semua recovery plan itu tak hanya tinggal rencana – namun benar-benar diimplementasikan sesuai sasaran. Serangkaian langkah kunci diatas ternyata benar-benar membawa keajaiban. Pada tahun 2001 Nissan telah kembali meraih keuntungan, dan terus mengalami pertumbuhan yang mengesankan hingga hari ini. Melalui tindakan eksekusi yang terukur dan brilian, ternyata Carlos bisa menuntaskan misi yang dibentangkan ke pundaknya. “From Zero to Hero”. Nissan Grand Livina dan Nissan X-Trail mungkin boleh terus melenggang di jalanan.

Alasan diperlukanya keselarasan antara strategi bisnis dengan strategi e-business pada suatu perusahaan.dan berikan contoh keterkaitan antara strategi bisnis dengan strategi e-business: Karena strategi e-business dan strategi bisnis memiliki keterkaitan yaitu strategi e-business merupakan implementasi strategi bisnis yang dalam proses bisnisnya lebih mengutamakan penggunaan IT.
  • Cost leadership strategy : memposisikan biaya produk dan jasa yang lebih rendah namun kualitas standar tetap dipertahankan dalam industri tersebut. Upaya penghematan dan penekanan biaya di berbagai sektor menjadi pilihan yang tidak dapat ditawar lagi guna menentukan harga terbaik untuk konsumen. 
Dalam strategi e-bussiness Penggunaan IT sangat bermanfaat untuk mengurangi biaya dari proses bisnis.
  • Differentiation strategy : menjadi unik dalam industri ,seperti penyediaan produk-produk yang unik dengan tetap menjaga kualitas yang tinggi dengan harga kompetitif. 
Dalam srtategi e-business IT digunakan untuk mengurangi keunggulan dari pesaing dan dapat memantau harga produk kita tetap kompetiif dengan harga produk pesaing bisnis
  • Innovation strategy : membangun atau membuat produk dan layanan dengan karakteristik baru dan mengembangkan jaringan penjualan. 
Dalam staregi e-business IT digunakan untuk membantu menciptakan priduk dan jenis layanan-layanan baru ,mengubah proses bisnis, dan juga menciptakan pasar baru.
  • Growth strategy :peningkatan pangsa pasar 
Dalam staregi e-business IT dapat digunakan untuk mengelola ekspansi bisnis regional dan global.
  • Alliance strategy : membangun kerjasama dengan rekan bisnis dan melakuka sinergi dari kompetisi bisnis yang ditekuni oleh masing-masing. 
Dalam strategi e-business IT dapat digunakan untuk memperluas dan mendukung strategi relasi bisnis.
  • Customer oriented strategy : sebuah upaya yang dilakukan untuk membuat konsumen nyaman dan senang. 
Dalam strategi e-business IT sangat bermanfaat dalam penerepan strategi ini semisal dengan membentuk layanan konsumen melalui situs resmi atau pun e-mail.
  • Internal efficiency strategy : peningkatan cara atau metode untuk menciptakan kepuasan karyawan,peningkatan kualitas,produktivitas dan pengambilan keputusan 
Dalam strategi e-business It digunakan untuk mendukung strategi ini untuk dapat lebih efisien dengan peningkatan layanan informasi karyawan,produk dan penggunaan software atau aplikasi yang membantu



Referensi:
Dharma, Budi Sutedjo.2001. Perspektif e-Business. Yogyakarta : Penerbit Andi Yogyakarta
Hunger, J.David & Thomas L. Wheelen. 1996. Manajemen Strategis. Terjemahan oleh Julianto Agung. 2001. Yogyakarta. Penerbit Andi
David, Fred R. 1997. Managemen Strategis. Terjemahan oleh Paulyn Sulistio. 2006. Jakarta. Penerbit Salemba Empat

TEKNOLOGI & INFRASTRUKTUR E-BUSINESS

Setelah kita tahu tentang model bisnis dan e-business selanjutnya kita membahas tentang Insfrastruktur e-bisnis. Infrastruktur e-bisnis sendiri adalah arsitektur hardware, software, konten dan data yang digunakan untuk memberikan layanan e-bisnis untuk karyawan, pelanggan dan mitra. Insfrastruktur e-bisnis yang memadai merupakan hal yang sangat penting untuk semua perusahaan yang mengadopsi e-bisnis karena hal tersebut mempengaruhi kualitas pelayanan langsung yang dialami oleh pengguna sistem dalam hal kecepatan dan responsibilitas. Sebuah keputusan utama dengan mengelola elemen infrastruktur yang berada dalam perusahaan dan dikelola secara eksternal sebagai pihak ketiga yang dikelola oleh sebuah aplikasi, server data, dan jaringan. Hal ini juga penting untuk menjadi fleksibel dengan mempertimbangkan teknologi baru untuk mendukung perubahan yang diperlukan oleh bisnis untuk bersaing secara efektif. Infrastruktur e-Business terdiri dari beberapa layer, yaitu :

Layer I (E-Business services- application layer)
Aplikasi bisnis infrastruktur. Aplikasi yang menyediakan akses ke layanan dan informasi di dalam dan di luar organisasi

Layer II (System software)
Merupakan layer yang mengatur software atau aplikasi perusahaan.
a. Kunci dari keputusan manajemen adalah standarisasi seluruh organisasi.
-Ini mengarah untuk mengurangi perulangan angka pada kontak yang berfungsi sebagai dukungan(support) dan pemeliharaan 
-Mengurangi harga pembelian melalui lisensi multi-user lisensi
b. Sistem perangkat lunak (software) yang dapat digunakan untuk client server dan jaringan
-Klien: browser yang membakukan standarisasi plug-in dan sistem perangkat lunak
-Server: standarisasi web-server
-Jaringan: jaringan perangkat lunak harus ditentukan

Layer III (Transport/ network layer)
Merupakan layer yang mengatur jaringan informasi di dalam suatu perusahaan.
a. Keputusan pada jaringan akan didasarkan pada jaringan internal perusahaan.
-e-business yang akan menjadi intranet
-Untuk jaringan eksternal yang akan menjadi extranet atau VPN, atau link ke public internet
b. Keputusan utama manajemen apakah internal atau manajemen jaringan eksternal yang akan dilakukan oleh perusahaan atau diserahkan kepada pihak ketiga.
c. Standarisasi hardware

Layer IV (Storage/Physical Layer) 
Merupakan layer yang mengelola penyimpanan data.
a. Penyimpanan dapat dikelola secara internal maupun eksternal
b. Misal intranet dan extranet umumnya dikelola internal,
c. Sementara penyimpanan pada internet seperti website perusahaan pada umumnya dikelola secara eksternal atau dikelola oleh penyedia layanan aplikasi

Layer V (Content/data layer)
Content layer adalah konten web untuk intranet, extranet dan situs internet, data pelanggan, data transaksi, dan data clickstream.

Setelah kita mengenal layer dari insfrastruktur e-business itu membuat kita berfikir bagaimana perkembangan TI smemberikan dampak atau pengaruh terhadap e-business itu sendiri. Dampak atau pengaruh sejak tahun 1950-an hingga saat ini diantaranya:

Tahun 1950 - Tahun 1960 
Ditemukan komputer digital pertama didunia oleh Vannevar Bush. Amerika membentuk Advance Research Projects Agency (ARPA) di bawah kewenangan departemen Pertahanan Amerika untuk mengembangkan ilmu pengetahuan dan teknologi informasi dalam bidang Militer. Setelah ditemukan dan dikembangkannya komputer manusia telah mulai memanfaatkan komputer dalam membantu kegiatan bisnisnya walaupun membantu dalam hal yang masih sederhana. 

Tahun 1960- Tahun 1980 
Diciptakannya pertama kali email oleh Ray Tomlison. Email menjadi sangat populer dan sangat membantu dalam kegiatan bisnis saat itu ,biaya surat dapat sedikit dipangkas dan kepentingan-kepentingan lain dapat lebih aman dan cepat melalui email.

Tahun 1980- Tahun 2000 
- Pada tahun 1982, istilah Internet pertama kali digunakan.
- Pada awal tahun 90-an, lahirlah The World Wide Web.
- Selanjutnya, audio dan video broadcast pertama kali di Internet yang dikenal “MBONE”. Lebih dari 1.000.000 host tersambung di Internet. Di mulailah era penggunaan internet pada saat itu, masyarakat dunia mulai dikenalkan dengan dunia jejaring dimana dapat mengatasi masalah jarak, ruang dan waktu. Perusahaan-perusahaan mulai menggunakan teknolgi web sebagai penunjang kegiatan bisnis mereka. Dengan adanya internet hubungan antara perusahaan dengan perusahaan dan perusahaan dengan konsumen menjadi lebih dekat.

Tahun 2000 - sekarang 
- Pada awal tahun 2000 Hampir 10 juta host online. Hampir 40 juta orang tersambung di internet, dan lebih dari $ 1billion pindah tangan per tahun lewat internet shopping mall.
- Penggunaan handphone semakin merambah dunia.
- Perkembangan internet yang semakin maju.
- Ditemukannya dan dikembangkannya smartphone dan gadget-gadget canggih lainnya.

Kegiatan e-business menjadi sangat berkembang, banyak orang mulai mengerti dan memanfaatkan kemajuan dalam bidang teknologi informasi untuk menunjang kegiatan bisnisnya. Apalagi dengan boomingnya smartphone sekarang kegiatan bisnis menjadi sangat mobile. Hanya lewat smartphone kegiatan bisnis menjadi lebih praktis dan efisien.

Kendala dan tantangan pemanfaatan TI pada e-Business : 
a. tantangan
Terbukanya persaingan yang semakin lebar yang diakibatkan mudahnya informasi yang diperoleh, sehingga memungkinkan terjadinya persaingan yang sangat ketat antar perusahaan 
Dituntutnya sistem keamanaan yang tinggi, karena dengan dimanfaatkanya TI dalam e-business memungkinkan untuk lebih mudahnya menerobos suatu sistem 
b.kendala
Biaya yang dibutuhkan semakin tinggi untuk membeli sofware, hardware maupun dalam perawatanya, walaupun penerapan e-business dapat memangkas biaya, tetapi di sisi lain penerapan TI dapat memakan banyak biaya dan belum semua perusahaan menerapkan e-business dalam perusahaan mereka 

Lalu munculah beberapa trend perkembangan TI pada saat ini, dan disini kami mengambil contoh teknologi cloud computing beserta keterkaitan antara manfaat dan kendala pemanfaatan cloud computing dalam operasionalisasi bisnis.
Pengertian teknologi cloud computing:
Cloud Computing bisa didefinisikan sebagai cara baru dalam berkomputer secara virtual untuk berbagi sumber daya yang berskala dinamik yang biasa disediakan oleh internet servis.
Keuntungan/Manfaat:
  • control: cloud computing menyediakan full control platform. Walause benarnya cloud computing providers sebetulnya bukan tipe system yang mendesign platform untuk perusahaan tertentu dan praktek bisnisnya.
  • Bandwidth costs: dengan cloud computing ,perusahaan dapat menghemat uang dari hardware dan software, bagaimanapun tingginya harga network bandwidth mereka. Harga bandwidth mungkin rendah untuk aplikasi berbasis internet yang kecil, dimana tidak ada data intensif, tapi cloud computing secara signifikan mengembangkan aplikasi untuk data intensif. Cloud computing membolehkan sharing sumberdaya dari berbagai aplikasi yang berbeda dengan objektif untuk utilitas server yang lebih baik.
Kendala/Tantangan:
  • Performance: di masa modern ini, perusahaan lebih mementingkan performa yang lebih berorientasi ke transaksi intensif dan aplikasi data intensif, dimana cloud computing kurang memadai performanya. Dan juga, orang orang yang jaraknya jauh dari cloud providers mungkin mengalami delay  yang lama.
  • Security and Privacy: perusahaan masih saja prihatin tentang keamanan cloud computing, customer juga masih meragukan ketidak kebalan data untuk diserang, saat informasi kristis sumberdaya IT sedang diluar firewall.
Setelah diteliti, HP Labs, Intel, dan Yahoo ternyata telah meluncurkan pendistribusian Cloud Research Test Bad. Yang fasilitasnya ada di Asia, Eropa, dan Amerika Utara, dengan keinginan untuk mengembangkan suatu inovasi yang menggunakan spesifikasi cloud computing chip. IBM sudah meluncurkan Research Computing Cloud yang on-demand, akses global seperangkat computer sumberdaya yang mensupport proses bisnis.
Dalam perkembangannya, cloud computing akan menjadi sebuah tipe paradigm/arsitektur computer yang akan menjadi pilihan utama pengguna untuk waktu yang lama. Di masa depan, cloud computing bisa muncul dalam bentuk yang berfariatif.
Dengan Cloud Computing cara baru untuk memanfaatkan produk TI, kita bisa jadi lebih flexible dan produktif dalam dinamika utlitas untuk mengalokasikan sumber daya yang ada untuk membuat suatu produksi dan untuk mengoperasikannya. Cloud akan melanjutkan penyusunan seperti dasar pondasi kedepannya untuk internet masa depan dimana kita akan saling terkoneksi dalam jaringan konten dan servis.



SUMBER
Dharma, Sutedjo.(2001). Perspektif e-business.Yogyakarta:Andi
Antonius Rachmat. Handout Perkuliahan E-Business and E-Commerce. Jurusan Teknologi Informasi:tidak diterbitkan

Selasa, 12 Februari 2013

MODEL BISNIS

Setelah kita belajar apa itu e-business dan lingkungan busines beserta seluk beluknya, pada postingan kali ini kami akan membahas Model dari E-Business itu sendiri. Model bisnis adalah suatu metode dalam melakukan bisnis agar perusahaan dapat menghasilkan pendapatan untuk mempertahankan keberadaan perusahaannya (Turban.2004,p11). Model bisnis juga menetukan bagaimana cara dan nilai apa saja yang ditambahkan oleh suatu perusahaan dalam menawarkan produk maupun jasa yang ditawarkan oleh perusahaan tersebut. Secara sederhana model bisnis adalah rencana untuk bagaimana sebuah perusahaan akan menghasilkan uang.
Model bisnis disusun bedarsarkan komponen-komponen model bisnis itu sendiri. Komponen model bisnis menurut Alexander Ostenwalderdan Yves Pigneur, dibagi menjadi 9 komponen, yaitu : 
a. Custommer segment.Dalam menjalankan roda bisnis, pertama sebuah perusahaan harus menetapkan siapa yang harus dilayani(pelanggan). Perusahaan dapat menentukan akan melayani satu atau bahkan lebih segmen. 
b. Value Proposition. Adalah manfaat yang ditawarkan perusahaan kepada segmen pasar yang dilayani. 
c. Channels. Merupakan sarana bagi perusahaan untuk menyampaikan Value Proposition kepada Customer Segment yang dilayani.
d. Revenue Stream. Merupakan komponen vital. Umumnya perusahaan memperoleh pendapatan dari pelanggan. Namun banyak perusahaan bisa membuka aliran masuk pendapatan bukan dari kantong pelanggan saja. 
e. Customer Relationship. Cara perusahaan menjalin ikatan atau hubungan dengan pelanggannya. 
f. Key Activities. Merupakan kegiatan utama perusahaan untuk dapat menciptakan proposi nilai. Proposisi nilai adalah nilai yang dapat dirasakan dari produk yang perusahaan berikan sebagai solusi untuk masalah konsumen atau kebutuhan konsumen. 
g. Key Resources. Sumber daya milik perusahaan yang digunakan untuk mewujudkan proposal nilai. Sumber daya umumnya berwujud manusia, teknologi, peralatan, merek. 
h.Key Partnership. Sumber daya yang diperlukan oleh perusahaan untuk mewujudkan proposo nilai. Key partnership dapat berwujud join atau aliansi strategi. 
i. Cost structure. Adalah komposisi biaya untuk mengoperasikan perushaan mewujudkan proposi nilai yang diberikan kepada pelanggan. Struktur biaya yang efisien adalah kunci besarnya laba sebuah perusahaan.

Perusahaan sangat penting memiliki model bisnis sebab bila sebuah perusahaan tidak memiliki atau tidak memikirkan model bisnis maka perusahaan itu akan bingung menjalankan roda bisnisnya sendiri. Mereka tidak dapat menentukan cara-cara untuk menjual produk mereka, mereka akan bingung menentukan target pasar mereka, dan mereka akan sangat kesulitan untuk mempertahankan keberadaan bisnis dan perusahaan mereka sendiri. Tanpa model bisnis, investor dan pemilik tidak akan memiliki gagasan yang jelas tentang cara terbaik untuk mengembangkan bisnis mereka. Perusahaan itu sendiri memiliki kekuatan utama, menurut Michael Porter terdapat 5 kekuatan utama, yaitu :

a.Daya pemasok( Supplier Power) 
Di sini dapat dinilai bagaimana mudahnya bagi pemasok untuk menaikkan harga. Hal ini didorong oleh jumlah pemasok, keunikan produk atau jasa mereka, kekuatan dan kontrol atas anda, biaya dapat beralih dari satu ke yang lain, dan seterusnya. Semakin sedikit pilihan pemasok yang perusahaan anda punya, dan semakin perusahaan Anda membutuhkan bantuan pemasok, pemasok akan merasa lebih kuat kedudukanya daripada anda. 
b.Kekuatan pembeli (Buyer Power) 
Disini akan terlihat bagaimana mudahnya bagi pembeli untuk mendorong harga turun. Hal ini didorong oleh jumlah pembeli, pentingnya setiap pembeli per individu untuk bisnis anda, biaya untuk mereka beralih dari produk dan jasa anda kepada mereka dari orang lain, dan sebagainya. Jangan pernah meremehkan pembeli karena mereka dapat mendikte bisnis anda. 
c. Rivalitas Kompetitif(Competitive Rivalry)
Di sini berbicara tentang jumlah dan kemampuan pesaing anda. Jika anda memiliki banyak pesaing, dan mereka menawarkan produk yang sama, maka anda akan kemungkinan besar memiliki sedikit kekuasaan dalam situasi tersebut. Jika pemasok dan pembeli tidak mendapatkan kesepakatan yang baik dari anda, mereka akan pergi ke tempat lain. Di sisi lain, jika pesaing perusahaan anda tidak ada yang bisa melakukan apa yang perusahaan anda lakukan, maka anda akan memiliki kekuatan yang luar biasa. 
d. Ancaman Substitusi(Threat of Substitution) 
Pembeli suatu saat akan memiliki kecenderungan untuk mengganti produk karena kinerja dari produk pengganti lebih baik dan memiliki harga relatif murah. Jumlah produknya juga lebih gampang ditemukan di pasar. 
e.Ancaman Pendatang Baru(Threat of New Entry) 
Kekuatan ini biasanya dipengaruhi oleh besar kecilnya hambatan masuk ke dalam industri tertentu. Hambatan masuk kedalam industri itu contohnya antara lain : besarnya biaya investasi yang dibutuhkan, perijinan ,akses terhadap bahan mentah, akses terhadap saluran distribusi, dll. Biasanya semakin tinggi hambatan masuk , semakin rendah ancaman yang masuk dari pendatang baru. 

Lalu dengan adanya TI, hal ini juga berpengaruh pada setiap kekuatan yang ada pada Porter’s 5 Forces, berikut pengaruhnya 
a. Daya Pemasok. Pengaruh TI pada kekuatan daya pemasok yaitu, info yang di dapat lebih akurat dikarenakan langsung terhubung dengan database pemasok, sehingga waktu yang diperlukan relatif lebih cepat daripada proses manual. 

b. Kekuatan Pembeli. Bertambahnya jumlah pembeli dikarenakan publikasi-publikasi di media elektronik. Dan pembeli dengan mudah dapat memperoleh informasi dari suatu produk, sehingga dapat membandingkan dengan produk lainya. Bagi para pembeli dengan perkembangan TI memungkinkan banyaknya pilihan barang/jasa yang dibeli, dan semakin terbukanya transparansi suatu produk. 

c. Rivalitas Kompetitif. Pengaruh TI pada Rivalitas Kompetitif terdapat 2 kemungkinan.
  • Terjadinya Persaingan yang semakin ketat. Hal ini dapat terjadi karena mudahnya informasi yang diperoleh, sehingga memungkinkan pesaing menemukan celah kekurangan dan dapat menghasilkan produk yang dapat lebih bersaing di pasar.
  • Terjadinya Partnership Business. Karena persaingan semakin ketat, maka untuk menghindari kerugian dan mengoptimalkan keuntungan dilakukan partnership agar antar perusahaan pesaing tersebut dapat mempertahankan eksistensi perusahaannya dan merebut segmen pasar yang lebih besar. 
d. Ancaman Substitusi. Dengan perkembangan TI dapat mengakibatkan pergantian suatu produk ke produk yang lain dengan tempo yang lebih cepat. Sehingga produsen dituntut lebih kreatif, kompetitif dan inovatif untuk mempertahankan eksistensi produknya pada segmen pasar. Bagi pembeli juga dituntut lebih bijak dalam membeli suatu produk. 

e. Ancaman Pendatang Baru. Terbukanya pasar yang lebar maka memungkinkan datangnya pesaing yang lebih banyak. Karena dengan menggunakan TI besarnya biaya investasi dapat ditekan. 


Di dalam Model bisnis terdapat pula bentuk-bentuk model untuk E-Business dan menurut Peter Weill dan Michael R. Vitale dalam buku “Place to Space: Migrating to e-Business Models”, memperkenalkan delapan tipe Model E-Business utama yang dapat dipilih perusahaan., yaitu : 

a.Direct to Customer. Melakukan penjualan melalui hubungan yang terjalin secara langsung antara perusahaan dengan pelanggannya. 
Contoh: online shop yang ditangani langsung oleh pemiliknya sehingga konsumen dapat berhubungan langsung saat proses jual beli berlangsung. 

b. Full-Service Provider. Menyediakan berbagai fasilitas dan jasa yang dibutuhkan oleh perusahaan lain maupun customer dalam menjalankan operasi bisnisnya. 
Contoh : Pada bank menyediakan fasilitas atm untuk pembayaran maupun pengiriman. Dan bank juga menyediakan layanan mobile banking untuk memudahkan transaksi dan berbagai fasilitas jasa lainnya. 

c. Whole of Enterprise, menawarkan fasilitas satu pintu (single point of contact) kepada pelanggan yang membutuhkan pelayanan tertentu yang melibatkan banyak pihak (perusahaan). 
Contoh : mobile banking memungkinkan kita untuk melakukan berbagai macam transaksi seperti membayar tagihan, mentransfer uang , cek saldo dll. 

d. Intermediaries, menjadi perantara dari berbagai jenis keperluan (berdasarkan data, informasi, segmen industri, komunitas, dll). 
Contoh : amazon.com mereka menyediakan berbagai jenis barang dan jasa dari bebagai produsen dan penyedia jasa untuk mempermudah konsumen dalam mencari suatu barang / jasa yang mereka butuhkan, jadi amazon hanya bertindak sebagai pihak ketiga atau sebagai perantara.

e. Shared Infrastructure, menawarkan penyewaan terhadap berbagai insfrastuktur teknologi informasi, meliputi database, aplikasi, perangkat keras, dan jaringan. 
Contoh : antivirus (avast), mendapatkan fasilitas trial dalam jangka waktu 1bln, jika kita ingin tetap menggunakan layanan tersebut maka kita harus membayar sejumlah harga yang ditentukan jika tidak aplikasi tersebut tidak akan berjalan. 

f. Virtual Community, memanfaatkan komunitas yang ada di dunia maya untuk berbagai keperluan seperti penawaran berbagai produk dan jasa digital. 
Contoh : Kaskus, dalam kaskus terdapat forum jual beli, yang menyediakan lapak penjualan dan pembelian barang maupun jasa.

g. Value Net Integrator, mengintegrasikan berbagai entiti atau sumber daya yang ada di internet agar produk-produk atau jasa-jasa baru yang belum pernah ada sebelumnya dapat ditawarkan kepada pasar dan calon pelanggan. 
Contoh : para produsen memasang iklan di berbagai sosial media dan berbagai website guna mempromosikan produk barunya.

h. Content Provider, menawarkan pelayanan pembentukan dan distribusi data, informasi, knowledge (content) yang bernilai tinggi kepada pelanggan. 
Contoh : Wikipedia , website tersebut menyediakan segala informasi maupun pembentukan informasi.


Lalu untuk menutup postingan kali ini, kami mencoba untuk memaparkan contoh kongkrit pengaruh TI pada Porter’s 5 Forces. 
a.Daya pemasok( Supplier Power) 
Kami mengambil contoh Hypermart atau Carefour. Toko super besar itu sebetulnya tidak memiliki gudang, tetapi, toko itu sendirilah gudangnya. Dalam satu toko super itu, tidak mungkin hanya ada 1 pemasok. Pasti ada ribuan pemasok dan dari jenis atau kalangan berbeda. Hal ini tentu menyulitkan manager toko untuk selalu mengawasi dan memesan barang yang sekiranya akan habis jika secara manual. Di sinilah peran IT sangat diperlukan. Pada saat barang dibeli, mesin / komputer pada kasir akan mencatat barang ini sebagai barang yang telah berkurang jumlahnya. Dan komputer pada kasir ini akan langsung tersambung ke database manager. Dan di database manager, setiap harinya akan diadakan akumulasi sisa barang secara otomatis. Dari sini kita dapat melihat jumlah barang yang tersisa di toko, jumlah barang yang terjual, harga, tingkat penjualan, dan lain sebagainya sesuai data yang diinginkan manager. Dan komputer database ini disambungkan juga dengan komputer database milik pemasok. Sehingga, apabila barang yang ada di toko sudah mulai menipis, pemasok akan melakukan transaksi dengan manager toko untuk mengirim pasokan barang kembali. Dan dengan sistem ini, Hypermart dan pemasok akan meminimalisir biaya pengecekan barang yang berjumlah banyak tersebut, dan biaya telpon, serta tenaga yang bekerja. Ini akan memperbesar laba pihak-pihak yang bersangkutan. 

b.Kekuatan pembeli (Buyer Power)
Untuk yang satu ini kami mengambil contoh umum. Yaitu iklan lewat media elektronik. Misal, TV, jejaring sosial, iklan pada aplikasi yang kita install entah itu di mobile phone atau komputer, papan reklame, pamflet, poster, dan lain sebagainya. Itu semua mulai dari awal pembuatan (merancang dan mendesain) dan langsung di publikasi (lewat jaringan internet menggunakan perangkat TI), itu semua menggunakan teknologi informasi. Entah itu hanya mendesain dengan komputer atau mendesain dan mempublikasikannya dengan komputer dan jaringan. Tetapi mendesain pun kita memerlukan berbagai referensi dari sumber-sumber lain. Disinilah jaringan internet diperlukan. Saat ini, manusia modern berdaya beli mana yang tidak punya gadget? Pasti semua punya. Otomatis, iklan-iklan yang di publikasikan lewat media IT tersebut akan cepat sampai ke konsumen, apalagi lewat jaringan. Dan meskipun kita membuat barang yang terbagus dan terunik, tetapi media tidak mengekspos, barang tersebut tidak akan banyak terjual. Karna tanpa disadari atau tidak, iklan menjadi suatu patokan kita membeli sebuah barang. Jadi, IT akan sangat diperlukan untuk kesuksesan sebuah inovasi. 

c. Rivalitas Kompetitif(Competitive Rivalry) 
Contoh perusahaan penerbangan Garuda Indonesia. Dulu, memesan tiket harus datang ke bandara langsung. Tapi sekarang tidak, karena Garuda telah membuka situs penjualan tiket pesawat secara online. Jadi, kita tidak perlu repot-repot harus ke bandara dulu untuk memesan tiket. Dan Garuda pun menjadi semakin terkenal dan besar. Di samping itu, ada perusahan penerbangan lain yang merupakan rival dari Garuda, kami ambil contoh Air Asia. Air Asia melihat perkembangan Garuda yang sangat pesat melalui situs tersebut. Akhirnya Air Asia pun mengobservasi situs tersebut dan membuka situsnya sendiri untuk meningkatkan daya saingnya. Garuda yang melihat hal itu akhirnya berinovasi, ia menjalin relasi dengan hotel, restaurant, tempat wisata, dan lain sebagainya untuk memberi discount khusus bagi yang bepergian dengan Garuda. Disini terlihat kerja sama antara Garuda dengan pihak hotel dan objek wisata tersebut. Mereka pada akhirnya dapat saling menguntungkan. Disini dapat terlihat jelas bahwa IT dapat menjadi dua mata pisau, yaitu menjalin kerjasama, serta meningkatkan persaingan. 

d. Ancaman Substitusi(Threat of Substitution) 
Saat ini manusia mulai banyak menuntut keinginan yang lebih baik dan lebih baik dari sebelumnya, tetapi mencari harga yang semurah-murahnya. Ini membuat produsen barang harus mampu bersaing untuk membuat suatu produk yang baik tetapi juga murah. Contohnya adalah Smartphone. Dulu, Smartphone hanya di pegang oleh Iphone. Namun karena harganya yang mahal, Iphone cenderung tidak banyak di pasaran. Lambat laun, munculah smartphone baru yaitu Blackberry, dengan harga yang jauh di bawah Iphone dan fitur-fitur menarik lainnya tetapi kualitas tidak jauh beda dengan iphone, Blackberry menjadi primadona dalam beberapa periode. Ini tidak akan terwujud jika tidak ada arus teknologi informasi yang mendorong berkembangnya fitur-fitur elektronik yang lebih bagus dan dengan harga yang terjangkau. Dan lewat jaringan IT, isu-isu tentang adanya blackberry langsung tersebar ke seluruh penjuru bumi, bahkan Indonesia, Korea, dan negara-negara maju lainnya. Sehingga, pemasaran blackberry menjadi lebih luas. Ini membuat perusahan pengelola Iphone memutar otak dan akhirnya berinovasi untuk membuat sebuah gadget baru yang dapat menyaingi blackberry. Maka terciptalah Ipad. Dengan ini, pembeli harus lebih waspada dan pada akhirnya menggunakan jaringan untuk mencari tahu, apa kelebihan dan kekurangan masing-masing gadget agar tidak salah membeli nantinya. Ini juga manfaat IT sebagai mesin pencari data/informasi.

e.Ancaman Pendatang Baru(Threat of New Entry) 
Kekuatan ini biasanya dipengaruhi oleh besar kecilnya hambatan masuk ke dalam industri tertentu. Hambatan masuk kedalam industri itu contohnya antara lain : besarnya biaya investasi yang dibutuhkan, perijinan ,akses terhadap bahan mentah, akses terhadap saluran distribusi, dll. Biasanya semakin tinggi hambatan masuk, semakin rendah ancaman yang masuk dari pendatang baru. Terbukanya pasar yang lebar maka memungkinkan datangnya pesaing yang lebih banyak. Karena dengan menggunakan TI besarnya biaya investasi dapat ditekan. Kami mengambil contoh pabrik rokok di kota Kudus. Dulu hanya ada 1 pabrik rokok di kota Kudus yaitu Roda Tiga milik Niti Semito, beliau dapat dengan cepat memperbesar usaha rokoknya karena saat itu belum ada pesaing. Melihat peluang pasar terbuka lebar, mulai bermunculan lah pabrik pabrik rokok lain yang lebih maju. Pabrik-pabrik tersebut dalam pengelolaan tugas dan mencari investasinya telah berbasis IT, sehingga mereka dapat dengan cepat mendapat investor dan memasarkan produknya. Lain halnya dengan pabrik Roda Tiga yang masih menggunakan cara manual, lama kelamaan pabrik tersebut gulung tikar. Jika saja pabrik tersebut mau menerapkan IT dalam proses produksinya, mungkin pabrik tersebut akan tetap berdiri sampai sekarang. Dan pabrik rokok yang terkenal kini adalah Djarum, meski di Kudus kini ada 3 pabrik rokok besar, tetapi nama Djarum lah yang paling dikenal. Karena ia dapat meng-efisien dan meng-efektifkan kinerja dengan menggunakan teknologi berbasis IT dengan menerapkan ERP sebagai sistem utamanya, sehingga namanya terkenal hingga ke negri sebrang. Sehingga sampai saat ini, belum ada yang mampu menyaingi pabrik rokok Djarum. 








Sumber : 
Artikel ilmiah Delapan Aternatif Model E-business oleh Richardus Eko Indrajit. 
Artikel Komponen Model Bisnis oleh Lisa Magloff 
Artikel ilmiah Apakah komponen utama dari model bisnis oleh Dana Griffin 
Porter, M.E. (1979), How competitive forces shape strategy,1979.